Budgeting Bisnis Bulanan: Cara Menentukan dan Mengontrol Pengeluaran

Apakah Anda merasa bisnis sudah berjalan, tapi arus kas selalu terasa sempit di akhir bulan? Jika iya, mungkin bukan omzet yang jadi masalah, melainkan cara Anda mengatur budgeting bisnis bulanan. Banyak pelaku usaha berfokus pada bagaimana menambah pendapatan, tapi lupa mengelola pengeluaran — padahal kunci keberkahan bisnis justru sering ada pada cara kita menjaga keseimbangan antara “masuk” dan “keluar”.

Artikel ini akan membimbingmu langkah demi langkah dalam menyusun, mengontrol, dan mengevaluasi budgeting bisnis bulanan secara praktis — dengan sentuhan nilai syariah agar bukan hanya finansialmu yang sehat, tapi juga keberkahan bisnis tetap terjaga.


Apa Itu Budgeting Bisnis Bulanan?

Budgeting bisnis bulanan adalah proses merencanakan berapa uang yang akan Anda keluarkan dan untuk apa saja, selama satu bulan ke depan. Dengan budgeting, Anda bisa mengontrol pengeluaran, memprediksi kebutuhan kas, dan memastikan setiap rupiah bekerja untuk tujuan bisnis.

Dalam perspektif keuangan syariah, budgeting bukan sekadar “alat kontrol uang”, tapi juga bentuk amanah. Karena setiap harta yang dikelola adalah titipan Allah, maka mengatur budget berarti menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesadaran dan kejujuran.

Kenapa Budgeting Itu Penting?

Bayangkan Anda sedang berlayar tanpa kompas. Mungkin anginnya baik, tapi Anda tidak tahu ke mana arah perahu akan membawa. Budgeting adalah kompas keuangan bisnis. Tanpa itu, mudah sekali terombang-ambing oleh pengeluaran kecil yang ternyata menguras besar.

Selain itu, budgeting membantu Anda:

  • Menghindari pemborosan dan kebocoran kas
  • Menentukan prioritas keuangan dengan jelas
  • Mempersiapkan dana darurat dan investasi jangka panjang
  • Menjaga stabilitas cash flow agar bisnis tidak “megap-megap” di akhir bulan

Langkah 1: Pahami Kondisi Keuangan Saat Ini

Sebelum membuat rencana, pahami dulu posisi Anda sekarang. Catat semua sumber pendapatan dan pengeluaran rutin. Jangan takut melihat angka apa adanya — karena dari situ Anda tahu “di mana Anda berdiri”.

Buat Peta Cashflow Sederhana

Tulis semua pemasukan dan pengeluaran dalam satu lembar. Misalnya:

KategoriJenisNominal (Rp)
PendapatanPenjualan produk15.000.000
PengeluaranBahan baku6.000.000
PengeluaranGaji karyawan3.000.000
PengeluaranSewa toko2.000.000
PengeluaranOperasional lain1.000.000
Infaq & sedekah2,5% dari pendapatan375.000

Dari tabel sederhana seperti ini, Anda akan melihat pola keuanganmu secara jernih — apakah pengeluaran masih proporsional, dan apakah ada ruang untuk disisihkan ke tabungan atau dana darurat.


Langkah 2: Tetapkan Pos Pengeluaran Berdasarkan Nilai Syariah

Dalam prinsip syariah, setiap pengeluaran sebaiknya membawa manfaat dan tidak berlebihan (israf). Maka, bagi budgeting ke dalam lima pos utama:

1️⃣ Kebutuhan Operasional

Termasuk bahan baku, listrik, gaji, dan logistik. Ini adalah kebutuhan pokok bisnis.

2️⃣ Tabungan & Investasi Bisnis

Sisihkan sebagian untuk memperkuat modal kerja, memperluas usaha, atau membiayai inovasi produk. Dalam konteks syariah, investasi yang halal dan produktif menjadi salah satu jalan keberkahan jangka panjang.

3️⃣ Dana Darurat

Penting untuk disiapkan minimal 1–3 bulan dari total pengeluaran bulanan bisnis, agar bisnis tidak goyah saat penjualan turun atau ada kebutuhan mendadak.

4️⃣ Komitmen Sosial (Infaq & Sedekah)

Sisihkan minimal 2,5% dari pendapatan bersih. Banyak pelaku usaha yang bersaksi, semakin disiplin mereka bersedekah, semakin lapang jalan rezekinya.

5️⃣ Kebutuhan Pribadi Pemilik

Ini sering jadi jebakan. Pisahkan antara keuangan pribadi dan bisnis agar tidak saling bercampur. Jika perlu, tetapkan “gaji pemilik” agar lebih tertib.


Langkah 3: Gunakan Rumus 50-30-10-5-5 Syariah

Untuk mempermudah, gunakan pendekatan formula berikut sebagai panduan awal:

PosPersentaseKeterangan
Operasional50%Kebutuhan rutin bisnis
Tabungan & Investasi30%Pertumbuhan & ekspansi
Dana Darurat10%Cadangan risiko
Infaq & Sedekah5%Komitmen spiritual & sosial
Pribadi Pemilik5%Gaji atau kebutuhan pribadi

Angka ini tentu fleksibel. Yang terpenting bukan presisinya, tapi konsistensinya. Ketika bisnis tumbuh, Anda bisa menyesuaikan porsi sesuai fase dan skala usaha.


Langkah 4: Buat Sistem Kontrol & Evaluasi Bulanan

Tanpa kontrol, budgeting hanya jadi catatan indah di atas kertas. Kuncinya ada pada kebiasaan mencatat dan mengevaluasi setiap akhir bulan. Ini seperti “muhasabah keuangan bisnis”.

Checklist Evaluasi Bulanan:

  • Apakah pengeluaran sesuai rencana?
  • Apakah pendapatan meningkat sesuai target?
  • Apakah ada kebocoran kas?
  • Apakah sedekah dan zakat sudah ditunaikan?
  • Apakah dana darurat bertambah?

Setiap jawaban “tidak” adalah alarm kecil untuk memperbaiki strategi bulan berikutnya.


Langkah 5: Studi Kasus — UMKM yang Berhasil Mengatur Budget

Kisah Rani, pemilik usaha frozen food di Bandung. Awalnya, setiap bulan ia selalu kekurangan kas padahal omzet naik. Setelah audit kecil, ternyata 20% pengeluarannya bocor ke kebutuhan pribadi dan pembelian stok berlebih.

Rani lalu membuat sistem budgeting bulanan syariah sederhana dengan format 50-30-10-5-5. Ia juga disiplin menyisihkan infaq tiap awal bulan, bukan di akhir. Enam bulan kemudian, cashflow bisnisnya stabil, tabungan darurat terbentuk, dan ia bisa ekspansi membuka cabang kedua.

“Ternyata keberkahan datang ketika kita jujur pada diri sendiri,” ujarnya sambil tersenyum.


Langkah 6: Gunakan Alat Bantu Digital

Anda bisa menggunakan aplikasi seperti Google Sheets, Notion, atau template Excel budgeting bulanan. Untuk versi syariah, buat kolom khusus “komitmen sosial” dan “investasi halal”. Dengan begitu, laporan keuanganmu bukan hanya efisien, tapi juga bernilai ibadah.


Penutup: Budgeting Bukan Sekadar Angka, Tapi Amanah

Mengelola uang dengan bijak adalah bagian dari menjaga amanah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan berikanlah kepada mereka dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu.” (QS. An-Nur: 33)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap rupiah yang kita kelola adalah titipan, bukan milik mutlak. Maka, buatlah budgeting bulanan bukan hanya untuk menambah profit, tapi juga untuk menumbuhkan keberkahan dan keadilan dalam bisnis.


✅ Takeaway Utama

  • Budgeting adalah kompas bisnis untuk menjaga keseimbangan keuangan dan keberkahan.
  • Gunakan format 50-30-10-5-5 Syariah untuk membagi pos pengeluaran.
  • Lakukan evaluasi rutin dan sisihkan infaq di awal, bukan di sisa.
  • Pisahkan antara keuangan pribadi dan bisnis sejak dini.
  • Budgeting yang konsisten mencerminkan kedewasaan dan tanggung jawab seorang pemilik bisnis.

Ingat, bukan seberapa besar omzetmu, tapi seberapa berkah cara Anda mengelolanya.

Panduan praktis mengatur budgeting bisnis bulanan: 5 langkah mudah dan praktis, format 50-30-10-5-5 Syariah, dan studi kasus nyata! agar sehat dan penuh barokah

Rekomendasi Internal Link (ke artikel INFINITI lain):

Cara Membuat Rencana Keuangan Usaha dalam 5 Langkah

Panduan Lengkap Mengelola Cash Flow Bisnis

Rekomendasi Eksternal Link (otoritatif & relevan):

OJK: Pedoman Literasi Keuangan Usaha Mikro

KNEKS: Panduan Keuangan Syariah Nasional

Harvard Business Review: Artikel tentang manajemen keuangan bisnis

Share Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Ebook GRATIS "10 Kesalahan Keuangan UMKM dan cara mengatasinya"
panduan praktis untuk pebisnis UMKM