Pemilik UMKM atau pelaku usaha mikro sering merasa kebingungan ketika harus menyusun laporan keuangan formal. Padahal laporan keuangan yang rapi dan jelas sangat krusial sebagai dasar pengambilan keputusan, evaluasi usaha, hingga meyakinkan calon investor atau lembaga keuangan. Dalam perspektif keuangan bisnis syariah pula, penyusunan laporan harus selaras dengan nilai-nilai keberkahan dan keadilan.
Artikel ini akan membahas langkah-langkah praktis membuat contoh laporan keuangan UMKM (sederhana tapi sesuai standar SAK EMKM), serta integrasi prinsip syariah dalam pelaporan keuangan usaha. Diharapkan setelah membaca ini, Anda — sebagai founder UMKM, profesional keuangan, atau calon investor — dapat memahami dan menggunakan laporan keuangan secara efektif.
Mengapa UMKM Perlu Laporan Keuangan?
Sebelum masuk ke contoh konkret, penting untuk memahami alasan mendasar kenapa setiap UMKM perlu memiliki laporan keuangan — bukan sekadar “catatan kas sederhana”. Laporan keuangan memungkinkan pelaku usaha melihat kondisi bisnis secara objektif dan transparan.
1. Alat Pengambilan Keputusan Bisnis
Dengan laporan keuangan, Anda bisa mengevaluasi lini usaha mana yang menguntungkan, mana yang memerlukan efisiensi, serta memproyeksikan alokasi modal ke depan. Keputusan investasi, ekspansi, atau pengendalian biaya menjadi lebih berbasis data.
2. Membentuk Kredibilitas dan Kepercayaan
Ketika Anda ingin menjalin kerja sama, meminjam dari lembaga keuangan, atau menggaet investor, laporan keuangan yang jelas dan rapi menunjukkan profesionalisme, transparansi, dan tanggung jawab. Ini turut membangun trust (kepercayaan) dalam perspektif E-E-A-T.
3. Sarana Evaluasi dan Kontrol Internal
Dengan laporan keuangan, Anda bisa mengecek apakah realisasi usaha berjalan sesuai rencana, mengidentifikasi kebocoran biaya, dan melihat tren pertumbuhan dalam jangka waktu tertentu.
4. Memenuhi Persyaratan Legal / Pengajuan Bantuan
Banyak program pemerintah, lembaga keuangan mikro, atau penyedia hibah mensyaratkan laporan keuangan sebagai bukti kelayakan. Dengan format yang jelas dan sesuai standar, pengajuan Anda lebih mudah diterima.
Standar Akuntansi UMKM: SAK EMKM (SAK UMKM)
Untuk menjembatani kebutuhan penyusunan laporan keuangan bagi usaha mikro hingga kecil, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menetapkan standar khusus yaitu SAK EMKM (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah). Standar ini dirancang agar UMKM tidak terbebani kompleksitas standar akuntansi besar, namun tetap menghasilkan laporan yang relevan dan andal.
Apa Itu SAK EMKM?
SAK EMKM adalah standar akuntansi sederhana yang disesuaikan karakteristik usaha mikro kecil dan menengah, bertujuan agar pelaku UMKM dapat menyusun laporan keuangan tanpa kesulitan.
Elemen Laporan Keuangan Berdasarkan SAK EMKM
Menurut SAK EMKM, minimal tiga laporan keuangan yang harus disusun adalah: laporan posisi keuangan (neraca), laporan laba rugi, dan laporan perubahan modal. Juga disarankan menyertakan catatan atas laporan keuangan jika ada hal-hal material.
1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Menampilkan posisi aset, kewajiban (utang), dan ekuitas (modal dan laba ditahan). Cocok untuk melihat “snapshot” di akhir periode tertentu.
2. Laporan Laba Rugi
Menunjukkan pendapatan dan beban usaha dalam periode tertentu, sehingga bisa tahu apakah usaha menghasilkan laba atau menderita rugi.
3. Laporan Perubahan Modal
Menjelaskan bagaimana modal awal berubah akibat laba/rugi dan penarikan (prive) pemilik.
4. Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK)
Menjelaskan kebijakan akuntansi, asumsi dasar, dan rincian akun yang signifikan agar pembaca memahami laporan secara mendalam.
Contoh Laporan Keuangan UMKM yang Mudah
Berikut adalah contoh laporan keuangan sederhana untuk UMKM “Usaha Cahaya” untuk periode 1 Januari – 31 Desember 2025. Anda bisa menyalin format ini dan mencocokkannya dengan catatan usaha Anda.
Laporan Posisi Keuangan — Usaha Cahaya
| Akun | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Aset Lancar | |
| Kas & Setara Kas | 50.000.000 |
| Piutang Usaha | 20.000.000 |
| Persediaan | 30.000.000 |
| Total Aset Lancar | 100.000.000 |
| Aset Tetap (neto penyusutan) | |
| Peralatan (setelah penyusutan) | 40.000.000 |
| Total Aset | 140.000.000 |
| Kewajiban / Utang | |
| Utang Usaha | 15.000.000 |
| Utang Bank (jika ada) | 10.000.000 |
| Total Kewajiban | 25.000.000 |
| Ekuitas Pemilik | |
| Modal Awal | 100.000.000 |
| Laba Ditahan / Laba Bersih | 15.000.000 |
| Total Ekuitas | 115.000.000 |
| Total Kewajiban + Ekuitas | 140.000.000 |
Caption: Contoh sederhana neraca usaha UMKM (Usaha Cahaya).
Laporan Laba Rugi — Usaha Cahaya
| Akun | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Pendapatan Penjualan | 200.000.000 |
| HPP / Harga Pokok Penjualan | 120.000.000 |
| Laba Kotor | 80.000.000 |
| Beban Operasional (gaji, listrik, admin) | 50.000.000 |
| Beban Penyusutan | 10.000.000 |
| Laba Bersih Sebelum Prive & Pajak | 20.000.000 |
| Prive / Pengambilan Pemilik | 5.000.000 |
| Laba Bersih yang Disisihkan | 15.000.000 |
Caption: Contoh laporan laba rugi usaha UMKM (Usaha Cahaya).
Laporan Perubahan Modal — Usaha Cahaya
| Keterangan | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Modal Awal (1 Jan 2025) | 100.000.000 |
| Tambah: Laba Bersih Tahun Berjalan | 15.000.000 |
| Kurang: Prive / Penarikan Pemilik | (5.000.000) |
| Modal Akhir (31 Des 2025) | 110.000.000 |
Caption: Contoh laporan perubahan modal UMKM.
Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) — Poin Penting
- Laporan ini disusun sesuai SAK EMKM (Entitas Mikro, Kecil & Menengah).
- Dasar pengukuran: biaya historis, asumsi akrual.
- Kebijakan akuntansi persediaan: FIFO / rata-rata (sesuaikan praktik usaha).
- Piutang usaha disajikan sebesar nilai tagihan (tanpa diskon).
- Penyusutan aset tetap menggunakan metode garis lurus selama masa manfaat.
- Transaksi material diungkap terpisah agar pembaca memahami dampaknya.
- Prive / Pengambilan pemilik dicatat sebagai pengurang ekuitas.
✍️ Langkah Praktis Membuat Laporan Keuangan UMKM
Untuk mempermudah Anda dalam praktik, berikut langkah sistematis menyusun laporan keuangan UMKM yang mudah dan efektif:
1. Kumpulkan Semua Bukti Transaksi
Mulai dari faktur penjualan, kwitansi pembelian, nota pengeluaran, bukti transfer, kuitansi kas masuk dan keluar. Simpan dalam bentuk digital maupun fisik agar mudah ditelusuri.
2. Klasifikasikan dan Catat ke Akun (Jurnal Umum)
Buat buku jurnal dengan akun pendapatan, biaya, aset, kewajiban, dan ekuitas. Catat berdasarkan tanggal transaksi.
3. Posting ke Buku Besar
Pindahkan setiap transaksi dari jurnal ke buku besar per akun agar saldo tiap akun muncul.
4. Susun Neraca Saldo Awal
Gabungkan saldo akun-akun di buku besar untuk memastikan debit = kredit sebelum penyesuaian.
5. Buat Jurnal Penyesuaian
Untuk akun seperti penyusutan, piutang tak tertagih, persediaan, beban yang sudah terjadi namun belum dicatat. Pastikan laporan mencerminkan realitas ekonomi.
6. Neraca Saldo Setelah Penyesuaian
Setelah jurnal penyesuaian, hitung kembali neraca saldo agar menjadi dasar laporan keuangan final.
7. Susun Laporan Keuangan (Neraca, Laba Rugi, Perubahan Modal)
Gunakan format yang telah dibahas sebelumnya agar jelas dan mudah dibaca.
8. Tambahkan Catatan & Pengungkapan
Jika ada transaksi unik, perubahan kebijakan akuntansi, atau hal-hal material, ungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan agar pembaca paham konteksnya.
9. Review, Validasi & Revisi
Periksa kembali apakah tidak ada kesalahan penjumlahan, apakah akun telah sesuai, dan apakah laporan sudah seimbang (neraca). Bila perlu, konsultasikan dengan akuntan profesional atau pihak internal keuangan. Di INFINITI, kami memberikan layanan review laporan dan konsultasi agar laporan keuangan Anda tidak hanya benar dari angka, tetapi juga syariah-compliant.
📈 Integrasi Prinsip Syariah dalam Laporan Keuangan UMKM
Bagi UMKM yang ingin menjaga integritas syariah, ada beberapa hal tambahan yang perlu diperhatikan agar laporan keuangan tidak sekadar akuntansi konvensional, melainkan mencerminkan nilai-nilai berkah dan keadilan.
1. Hindari Pendapatan dari Riba atau Unsur Tidak Halal
Pastikan bahwa seluruh pendapatan usaha bersumber dari aktivitas halal; bila ada pendapatan non-operasional namun tidak sesuai syariah, pisahkan dan ungkap agar transparan.
2. Perlakuan Imbalan (Fee / Komisi / Bagi Hasil)
Jika usaha Anda menggunakan skema bagi hasil (misal kemitraan syariah), perlakukan pembagian hasil secara adil dan catat sesuai porsi. Gunakan kontrak yang jelas agar tidak ada unsur gharar atau riba.
3. Penyajian Zakat & Sedekah dalam Laporan
Jika Anda menyisihkan sebagian hasil usaha untuk zakat / sedekah usaha, catat sebagai pos pengeluaran sosial (bukan beban operasional normal). Ungkap dalam catatan agar stakeholder tahu bahwa laporan Anda mempertimbangkan tanggung jawab sosial dan keberkahan. INFINITI secara rutin mendorong integrasi syariah mindset seperti ini dalam setiap proses keuangan.
4. Kepatuhan terhadap Standar Syariah & Akuntansi Syariah
Untuk lembaga keuangan syariah, standar seperti PSAK 413 (pengakuan impairment untuk instrumen keuangan syariah) diterbitkan oleh IAI untuk memastikan bahwa perlakuan akuntansi sesuai prinsip syariah (misalnya, tidak menggunakan discount rate yang mengandung riba).
Secara internasional, AAOIFI juga mengeluarkan standar akuntansi syariah yang menjadi rujukan akuntansi keuangan dunia Islam.
5. Transparansi & Pengungkapan Syariah
Dalam catatan atas laporan keuangan, sertakan pernyataan kepatuhan syariah (jika ada review dari Dewan Syariah internal atau eksternal). Juga, jelaskan jika ada transaksi jasa, margin, atau pembiayaan yang tunduk pada prinsip syariah. Ini memperkuat reputasi dan kepercayaan stakeholder bahwa usaha Anda tidak sekadar “mengaku syariah” tetapi **menerapkannya dengan nyata**.
📋 Rasio Keuangan Penting & Interpretasi
Selain menyajikan angka dalam laporan, Anda perlu memahami beberapa rasio penting agar bisa membaca kinerja usaha secara lebih tajam. Berikut rasio dasar yang sebaiknya diperhitungkan oleh UMKM:
- Rasio Likuiditas: misalnya **Current Ratio** = Aset Lancar / Kewajiban Lancar. Menunjukkan kemampuan usaha membayar kewajiban jangka pendek.
- Rasio Profitabilitas: seperti Margin Laba = Laba Bersih / Pendapatan. Menunjukkan berapa persen keuntungan dari tiap pendapatan.
- Rasio Perputaran Persediaan: = HPP / Persediaan Rata-rata. Mengukur seberapa cepat barang Anda berputar.
- Rasio Solvabilitas / Leverage: = Total Kewajiban / Ekuitas. Menunjukkan sejauh mana usaha dibiayai dari utang.
Contoh: Jika usaha “Cahaya” memiliki aset lancar Rp 100 juta dan kewajiban lancar Rp 25 juta, maka current ratio = 100 / 25 = 4. Artinya, aset lancar 4× lipat kewajiban — posisi sehat secara likuiditas. Jika margin laba 15%, artinya dari Rp 100 revenue, Anda meraih Rp 15 sebagai keuntungan bersih.
⚠️ Tantangan Umum & Tips Agar Laporan Keuangan UMKM Tidak “Amburadul”
Banyak UMKM menghadapi kendala saat membuat laporan: catatan keuangan yang tidak rapi, kekurangan sumber daya manusia yang memahami akuntansi, atau takut akan kerumitan istilah akuntansi. Berikut tips dari pengalaman INFINITI Mulia Sedaya dalam mendampingi UMKM:
1. Catat Transaksi Setiap Hari Tanpa Menunda
Menunda pencatatan menyebabkan lupa detail, hilangnya bukti transaksi, atau pencampuran antara uang pribadi dan usaha. Disiplin harian lebih penting daripada laporan megah di akhir tahun.
2. Gunakan Template Sederhana / Software Ringkas
Pakai format Excel, Google Sheets, atau software akuntansi ringan agar proses lebih cepat, otomatis, dan minim kesalahan. Anda bisa memulai dengan template yang kami sediakan di INFINITI atau mendownload format dari situs resmi IAI.
3. Pisahkan Catatan Keuangan Pribadi & Usaha
Pastikan modal kerja usaha tidak tercampur dengan pengeluaran pribadi. Ini penting agar laporan keuangan Anda valid dan memberikan gambaran usaha yang sebenarnya.
4. Minimalkan Transaksi Tunai Besar Tanpa Bukti
Selalu gunakan bukti (nota, faktur, kwitansi) agar tidak muncul transaksi yang tidak dapat diverifikasi.
5. Lakukan Reviu Bulanan & Revisi
Setiap akhir bulan, evaluasi laporan keuangan, bandingkan realisasi terhadap target, dan revisi strategi jika perlu.
6. Libatkan Konsultan / Pendamping Keuangan Syariah
Kalau Anda belum melek akuntansi atau syariah reporting, bermitra dengan konsultan seperti INFINITI bisa membantu validasi, audit ringan, dan menjaga kepatuhan syariah.
🔗 Internal & Eksternal Link Rekomendasi
Untuk memperkuat pengetahuan dan sebagai bahan rujukan, berikut beberapa link internal dan eksternal yang bisa Anda eksplorasi:
- Internal: (Misalnya) “Layanan Konsultasi Keuangan Syariah” di situs INFINITI — infinitimulia.com
- Eksternal: Standar akuntansi syariah AAOIFI — Sharia’ah Standards – AAOIFI
- Eksternal: Penjelasan standar PSAK 413 terkait perlakuan impairment instrumen keuangan syariah
- Eksternal: Contoh laporan keuangan UMKM sesuai SAK EMKM — Jurnal.id
- Eksternal: Pedoman keuangan perbankan syariah — “Guidelines on Financial Reporting for Licensed Islamic Banks”
🧮 Studi Kasus Sederhana & Simulasi Cash Flow
Untuk semakin memperkuat pemahaman, mari kita lihat simulasi aliran kas (cash flow) sederhana dari usaha “Cahaya” selama 3 bulan pertama Tahun 2026:
| Bulan | Kas Masuk (Rp) | Kas Keluar (Rp) | Net Cash Flow (Rp) |
|---|---|---|---|
| Januari 2026 | 60.000.000 | 45.000.000 | 15.000.000 |
| Februari 2026 | 55.000.000 | 40.000.000 | 15.000.000 |
| Maret 2026 | 65.000.000 | 50.000.000 | 15.000.000 |
Caption: Simulasi arus kas (cash flow) dasar 3 bulan pertama usaha UMKM.
Dari simulasi ini, usaha memperoleh arus kas positif Rp 15 juta setiap bulan. Artinya, usaha mampu menutup semua pengeluaran dan menyisakan dana untuk investasi atau cadangan.
✅ Kesimpulan & Langkah Awal Anda
Membuat laporan keuangan UMKM yang mudah dipahami sebenarnya bukan hal yang mustahil. Kuncinya adalah disiplin pencatatan, pemilihan format sederhana dan konsisten, serta kesadaran akan nilai-nilai syariah apabila Anda ingin menjaga integritas usaha halal. Dengan menggunakan format SAK EMKM sebagai dasar, serta menambahkan catatan dan pengungkapan syariah yang transparan, Anda membangun reputasi usaha yang kredibel dan penuh berkah.
Langkah awal yang bisa Anda lakukan sekarang:
- Mulailah menyusun jurnal dan bukti transaksi sejak hari ini.
- Gunakan template laporan keuangan sederhana (seperti contoh di atas).
- Setiap bulan lakukan review dan perbaikan.
- Pertimbangkan pendampingan keuangan dari tim profesional (seperti INFINITI) agar laporan Anda valid dan syariah-compliant.
Semoga artikel ini membantu Anda menyusun **contoh laporan keuangan UMKM yang mudah dibuat dan dipahami**, serta menguatkan fondasi usaha Anda dari perspektif keuangan syariah yang berkelanjutan. Jika Anda ingin konsultasi lebih lanjut, tim INFINITI Mulia Sedaya siap membantu Anda—dengan pengalaman, kredibilitas, dan visi keberkahan.




