Zakat bukan hanya kewajiban individu, tetapi juga tanggung jawab sosial bagi entitas bisnis. Bagi perusahaan yang sudah berkembang dan menghasilkan keuntungan, membayar zakat secara benar mencerminkan integritas, kepatuhan syariah, serta kontribusi nyata terhadap pemerataan ekonomi. Namun, banyak pemilik usaha masih bingung tentang cara hitung zakat perusahaan yang benar sesuai ketentuan syariah dan prinsip akuntansi modern.
Artikel ini akan membahas dasar hukum zakat perusahaan, jenis-jenis aset yang wajib dizakati, rumus perhitungan zakat, serta contoh praktis penerapannya. Semua dijelaskan dengan pendekatan yang mudah dipahami dan relevan bagi pelaku bisnis masa kini.
Apa Itu Zakat Perusahaan?
Zakat perusahaan adalah kewajiban zakat yang dikenakan pada badan usaha atas kekayaan dan keuntungan yang dihasilkan dari aktivitas bisnis. Prinsipnya sama dengan zakat perdagangan, yakni 2,5% dari nilai bersih aset yang memenuhi syarat nisab dan haul (1 tahun kepemilikan).
Menurut BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), zakat perusahaan dapat dikenakan pada berbagai bentuk usaha — seperti PT, CV, koperasi, maupun firma — selama entitas tersebut memiliki kepemilikan yang jelas dan menghasilkan laba.
Landasan Hukum Zakat Perusahaan
- Al-Qur’an: QS. At-Taubah [9]:103 memerintahkan pengambilan zakat dari harta untuk mensucikan dan membersihkan pemiliknya.
- Hadis Nabi SAW: “Tidak ada kewajiban zakat atas harta hingga berlalu satu tahun.” (HR. Abu Dawud)
- Fatwa DSN-MUI No. 8/DSN-MUI/IV/2000: Menetapkan bahwa badan usaha wajib menunaikan zakat atas keuntungan bersih yang diperoleh.
Kapan Perusahaan Wajib Membayar Zakat?
Zakat perusahaan wajib dibayar ketika terpenuhi dua syarat utama: mencapai nisab dan melewati satu tahun haul. Nisab zakat perdagangan disetarakan dengan 85 gram emas.
Jika harga emas saat ini adalah Rp1.200.000 per gram, maka nisab zakat perusahaan adalah:
85 gram × Rp1.200.000 = Rp102.000.000
Artinya, bila aset bersih perusahaan mencapai atau melebihi jumlah tersebut selama satu tahun penuh, maka wajib dikeluarkan zakat sebesar 2,5%.
Jenis Kekayaan yang Dikenakan Zakat
Tidak semua aset perusahaan wajib dizakati. Hanya kekayaan produktif yang menghasilkan keuntungan dan dimiliki selama satu tahun haul yang termasuk objek zakat. Berikut kategorinya:
| Jenis Aset | Keterangan | Wajib Zakat? |
|---|---|---|
| Kas & Setara Kas | Saldo kas, deposito, tabungan bisnis | Ya |
| Piutang Lancar | Tagihan yang mungkin tertagih dalam waktu dekat | Ya |
| Persediaan Barang Dagang | Stok barang yang siap dijual | Ya |
| Aset Tetap | Tanah, gedung, peralatan (tidak untuk dijual) | Tidak |
| Investasi | Penyertaan saham atau modal usaha lain | Ya, jika menghasilkan keuntungan |
Cara Hitung Zakat Perusahaan yang Benar
Secara umum, rumus zakat perusahaan adalah sebagai berikut:
(Aset Lancar + Persediaan + Investasi + Piutang Lancar) - Kewajiban Jangka Pendek = Harta Bersih Kena Zakat
Kemudian zakat dihitung dengan:
Zakat = 2,5% × Harta Bersih Kena Zakat
Contoh Perhitungan Praktis
Misalkan PT Sinar Mulia memiliki data keuangan sebagai berikut:
- Kas dan deposito: Rp500.000.000
- Persediaan barang dagang: Rp200.000.000
- Piutang lancar: Rp150.000.000
- Kewajiban jangka pendek: Rp100.000.000
Maka perhitungannya adalah:
(Rp500.000.000 + Rp200.000.000 + Rp150.000.000) – Rp100.000.000 = Rp750.000.000
Zakat yang harus dibayar:
2,5% × Rp750.000.000 = Rp18.750.000
Jumlah tersebut dapat disalurkan melalui lembaga resmi seperti BAZNAS, LAZ, atau langsung kepada mustahik (penerima zakat) sesuai ketentuan syariah.
Perbedaan Zakat Perusahaan dan Pajak
Banyak pemilik usaha yang masih bingung membedakan zakat dan pajak. Padahal keduanya memiliki tujuan dan dasar hukum yang berbeda. Berikut perbandingannya:
| Aspek | Zakat | Pajak |
|---|---|---|
| Dasar Hukum | Syariat Islam (Al-Qur’an & Hadis) | Undang-Undang Negara |
| Penerima | Mustahik (8 golongan penerima zakat) | Pemerintah |
| Tujuan | Menyucikan harta & mengurangi kesenjangan sosial | Membiayai pembangunan dan operasional negara |
| Besaran | 2,5% dari aset bersih produktif | Sesuai ketentuan perpajakan |
Perlu dicatat, di Indonesia zakat yang dibayarkan melalui lembaga resmi seperti BAZNAS dapat menjadi pengurang pajak penghasilan (PPH), sesuai Peraturan Dirjen Pajak No. PER-15/PJ/2012.
Tips Praktis Menghitung Zakat Perusahaan dengan Tepat
Agar perhitungan zakat perusahaan lebih akurat dan sesuai syariah, perhatikan hal-hal berikut:
- Gunakan laporan keuangan yang sudah diaudit untuk memastikan validitas data.
- Hitung zakat setelah penutupan buku tahunan (haul satu tahun).
- Masukkan piutang yang realistis dapat tertagih, bukan semua piutang.
- Jika bisnis merugi, zakat tetap wajib jika nilai harta bersih masih mencapai nisab.
- Konsultasikan dengan konsultan keuangan syariah IMS untuk memastikan perhitungan sesuai ketentuan.
Studi Kasus: PT Amanah Jaya Sejahtera
PT Amanah Jaya Sejahtera, klien IMS di sektor logistik, awalnya menghitung zakat hanya dari laba bersih. Setelah dilakukan audit zakat, ditemukan bahwa beberapa aset lancar seperti deposito dan piutang juga wajib dizakati. Setelah pembetulan, total zakat meningkat 30% dari perhitungan awal.
Langkah ini tidak hanya memperkuat kepatuhan syariah, tetapi juga meningkatkan kepercayaan stakeholder dan reputasi perusahaan di mata publik.
Manfaat Zakat Perusahaan bagi Bisnis
Selain kewajiban religius, zakat perusahaan membawa manfaat strategis bagi keberlanjutan bisnis:
- Meningkatkan reputasi dan citra positif perusahaan.
- Mendorong loyalitas karyawan dan kepercayaan mitra bisnis.
- Menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR syariah).
- Menarik keberkahan dan keseimbangan dalam keuangan perusahaan.
Peran IMS dalam Membantu Perhitungan Zakat Perusahaan
Infiniti Mulia Sedaya (IMS) membantu perusahaan memastikan pengelolaan zakat sesuai prinsip syariah dan standar akuntansi modern. Melalui layanan konsultasi keuangan syariah, IMS menyediakan:
- Audit zakat perusahaan untuk menghitung nilai kewajiban dengan benar.
- Pendampingan penyaluran zakat melalui lembaga resmi.
- Pelatihan internal bagi tim keuangan untuk memahami prinsip zakat bisnis.
Pendekatan ini tidak hanya memastikan kepatuhan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap tanggung jawab sosial perusahaan.
Kesimpulan
Mengetahui cara hitung zakat perusahaan yang benar adalah langkah penting bagi setiap pelaku usaha Muslim. Zakat bukan hanya kewajiban spiritual, melainkan juga bentuk komitmen terhadap transparansi, keadilan, dan keberlanjutan bisnis. Dengan perencanaan yang baik dan pendampingan profesional seperti IMS, perusahaan dapat menjalankan kewajiban ini dengan tepat, efektif, dan penuh keberkahan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan ahli zakat atau konsultan keuangan syariah.




