Bayangkan sebuah perusahaan yang omzetnya tumbuh pesat, tim solid, dan pasar semakin luas. Namun, pemilik bisnis tetap tenang meski menghadapi gejolak karena keuangannya dikelola bukan hanya dengan strategi modern, tapi juga berlandaskan nilai ilahiah: prinsip syariah keuangan perusahaan. Inilah fondasi yang bukan hanya menjaga angka tetap sehat, tapi juga memastikan keberkahan yang mengalir dalam setiap transaksi.
Mengapa Prinsip Syariah Penting dalam Keuangan Perusahaan?
Di era bisnis yang serba cepat, banyak pengusaha menyadari bahwa profit semata tidak cukup. Keberlanjutan, reputasi, dan keberkahan kini jadi pertimbangan penting. Prinsip syariah hadir sebagai solusi: mengajarkan transparansi, keadilan, serta menghindarkan perusahaan dari praktik yang merugikan orang lain.
Banyak CEO mulai melirik pendekatan ini bukan karena tren, melainkan kebutuhan. Sistem konvensional sering menekankan keuntungan sesaat, sementara prinsip syariah menekankan keseimbangan jangka panjang. Di sinilah keunikan dan daya tariknya.
Dasar-Dasar Prinsip Syariah Keuangan Perusahaan
Sebelum masuk ke strategi implementasi, penting untuk memahami pondasi prinsip syariah itu sendiri. Tanpa dasar yang kokoh, perusahaan bisa salah arah dalam mengelola keuangan. Mari kita lihat empat pilar utama yang menjadi fondasi sistem keuangan syariah.
Larangan Riba: Fondasi Utama
Dalam prinsip syariah, riba adalah sesuatu yang haram karena menimbulkan ketidakadilan dan merusak keseimbangan ekonomi. Perusahaan yang menerapkan syariah menghindari pembiayaan berbasis bunga, lalu menggantinya dengan akad-akad syariah seperti murabahah (jual beli dengan margin), mudharabah (bagi hasil antara pemilik modal dan pengelola), atau musyarakah (kerjasama modal). Sebagaimana di sebutkan oleh OJK Syariah.
Langkah ini bukan hanya etis, tapi juga membuat hubungan bisnis lebih sehat dan adil.
Keadilan dan Transparansi
Keadilan dan keterbukaan menjadi inti dalam syariah. Dalam keuangan perusahaan, ini berarti setiap transaksi harus jelas, tercatat, dan tidak merugikan salah satu pihak. Misalnya, laporan keuangan harus disajikan terbuka, audit dilakukan dengan standar syariah, serta tidak ada praktik “menyembunyikan angka”.
Keterbukaan ini membangun kepercayaan tidak hanya dengan investor, tapi juga karyawan dan mitra bisnis.
Prinsip Bagi Hasil
Alih-alih menggunakan bunga tetap, sistem syariah lebih mengedepankan konsep bagi hasil. Model ini memungkinkan pemilik modal dan pengelola usaha merasakan untung dan rugi secara adil. Bagi perusahaan, ini juga mendorong kehati-hatian, karena risiko dan keuntungan dibagi proporsional.
Bagi hasil sangat relevan untuk joint venture, kemitraan investor, bahkan pembiayaan UMKM.
Larangan Gharar dan Maisir
Gharar adalah ketidakpastian yang berlebihan, sementara Maisir adalah spekulasi atau perjudian. Dalam praktik bisnis, keduanya dilarang. Itu berarti perusahaan syariah tidak boleh membuat kontrak yang tidak jelas atau masuk ke dalam spekulasi berisiko tinggi.
Contohnya, kontrak kerja sama harus punya detail jelas: harga, waktu, tanggung jawab. Dengan begitu, semua pihak terlindungi.
Implementasi Prinsip Syariah dalam Manajemen Keuangan Perusahaan
Setelah memahami dasar-dasarnya, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana praktiknya di lapangan? Banyak pengusaha ingin tahu langkah konkret apa yang bisa diambil agar keuangan perusahaan tetap sesuai syariah tanpa mengganggu operasional. Inilah bentuk implementasi yang bisa mulai diterapkan.
Pengelolaan Kas dan Likuiditas
Keuangan syariah menghindari riba, sehingga perusahaan tidak boleh menempatkan kas di instrumen berbunga. Alternatifnya adalah menaruh dana di bank syariah, atau memanfaatkan instrumen pasar modal syariah seperti sukuk. Dengan begitu, dana perusahaan tetap produktif tanpa melanggar aturan syariah.
Likuiditas yang sehat juga membuat perusahaan lebih tangguh menghadapi krisis.
Perencanaan Investasi Syariah
Investasi syariah berarti hanya menaruh dana di sektor halal. Misalnya, properti, kesehatan, pendidikan, energi terbarukan, atau teknologi yang bermanfaat. Sebaliknya, perusahaan harus menghindari sektor yang bertentangan dengan syariah seperti minuman keras, perjudian, atau industri yang merusak lingkungan.
Dengan strategi ini, investasi tidak hanya memberikan keuntungan, tapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat.
Struktur Pembiayaan yang Sesuai Syariah
Jika perusahaan butuh pendanaan, prinsip syariah memberikan alternatif. Alih-alih berutang dengan bunga, perusahaan bisa menerbitkan sukuk (obligasi syariah), menggunakan crowdfunding syariah, atau bermitra dengan investor lewat akad mudharabah.
Ini membuat struktur keuangan lebih sehat, karena risiko dan keuntungan dibagi secara transparan.
Tata Kelola dan Akuntabilitas Syariah
Dewan Pengawas Syariah (DPS) berperan penting untuk memastikan setiap transaksi sesuai aturan. Audit syariah juga menjadi standar yang wajib dilakukan secara berkala.
Akuntabilitas ini meningkatkan kepercayaan publik dan investor, sekaligus menambah nilai reputasi perusahaan.
Studi Kasus: Perusahaan yang Berhasil Menerapkan Prinsip Syariah Keuangan
Teori seringkali terasa abstrak sebelum kita melihat contoh nyatanya. Karena itu, mari kita pelajari beberapa perusahaan yang berhasil menjalankan prinsip syariah dalam keuangannya. Dari sini, kita bisa menarik pelajaran yang relevan untuk berbagai skala bisnis, baik besar maupun kecil.
Sektor Finansial: Bank Syariah Indonesia
Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi contoh transformasi besar di Indonesia. Dengan menyatukan beberapa bank syariah, BSI berhasil tumbuh dengan aset triliunan rupiah. Prinsip bagi hasil, pembiayaan syariah, dan tata kelola sesuai syariah membuat bank ini dipercaya luas.
Sektor Riil: Perusahaan FMCG/Manufaktur
Beberapa perusahaan FMCG besar telah menerapkan pembiayaan syariah untuk ekspansi pabrik. Mereka memilih sukuk dibanding obligasi konvensional. Hasilnya? Akses ke pasar modal syariah meningkat, reputasi juga naik.
Pelajaran untuk UMKM dan Startup
UMKM bisa meniru dengan memulai dari hal sederhana: menggunakan rekening bank syariah, menghindari pinjaman berbunga, atau membuat kontrak usaha berbasis bagi hasil.
👉 Artikel tentang Investasi dan keuangan syariah.
Tantangan dan Solusi dalam Penerapan Prinsip Syariah Keuangan Perusahaan
Tidak ada perubahan besar yang datang tanpa tantangan. Begitu pula dengan penerapan prinsip syariah keuangan perusahaan. Namun, setiap tantangan selalu memiliki solusi jika ditangani dengan pendekatan yang tepat. Berikut beberapa hambatan umum dan jalan keluarnya.
Kurangnya Literasi Syariah di Level Manajemen
Banyak manajer atau pemilik usaha yang belum memahami detail syariah finance. Solusinya adalah edukasi, pelatihan, serta kolaborasi dengan konsultan syariah.
Akses terhadap Instrumen Keuangan Syariah
Tidak semua perusahaan tahu instrumen apa saja yang tersedia. Sukuk, reksadana syariah, crowdfunding halal—semuanya bisa diakses jika tahu jalurnya. Edukasi dan sosialisasi dari regulator sangat penting. Bank Indonesia – Pasar Keuangan Syariah.
Integrasi dengan Regulasi & Standar Akuntansi
Mengikuti PSAK Syariah dan standar internasional AAOIFI bisa jadi tantangan. Namun, perusahaan yang mampu mengintegrasikan ini akan lebih siap masuk ke pasar global.
Bagaimana Memulai Penerapan Prinsip Syariah Keuangan di Perusahaan Anda
Setelah memahami dasar, implementasi, dan tantangan, kini saatnya masuk ke pertanyaan praktis: dari mana memulai? Tidak perlu langsung sempurna, yang penting adalah melangkah dengan roadmap yang jelas. Berikut langkah pertama yang bisa Anda lakukan.
Audit Awal dan Health Check Keuangan
Langkah pertama adalah melakukan audit internal: apakah masih ada unsur riba, spekulasi, atau transaksi yang tidak jelas. Dari sini, perusahaan bisa tahu titik mana yang perlu diperbaiki.
Menyusun Roadmap Syariah Finance
Transformasi tidak bisa instan. Susun roadmap: edukasi tim, buat SOP syariah, pilih instrumen pembiayaan halal, dan monitoring berkala.
Kolaborasi dengan Konsultan Syariah
Daripada trial & error, perusahaan bisa bekerja sama dengan konsultan syariah. Dengan begitu, proses jadi lebih cepat, minim kesalahan, dan sesuai regulasi.
Infiniti Mulia hadir sebagai mitra strategis yang membantu perusahaan bertransformasi dengan tenang, adil, dan sesuai prinsip syariah.
Kesimpulan: Keuangan Perusahaan yang Berkah dan Berkelanjutan
Mengelola keuangan dengan prinsip syariah bukan hanya tentang menghindari yang haram, tapi juga membangun sistem yang adil, transparan, dan berkelanjutan. Dengan fondasi ini, perusahaan bukan hanya tumbuh, tapi juga mendapatkan keberkahan yang tak ternilai.
Jika Anda seorang pengusaha, CEO, atau pemilik bisnis yang ingin bertransformasi menuju sistem keuangan yang lebih berkah, mulailah dari sekarang. Kunjungi Infiniti Mulia untuk solusi lengkap, agar perusahaan Anda bukan hanya untung, tapi juga mendatangkan kebaikan.




