Bayangkan seorang pengusaha yang baru saja menutup buku tahunan perusahaannya. Omzet naik, keuntungan stabil, tapi ada satu pertanyaan besar di kepalanya: “Uang hasil usaha ini mau saya taruh di mana?” Jika disimpan di rekening bank, nilainya bisa tergerus inflasi. Jika masuk ke instrumen spekulatif, risikonya besar dan bisa membuat tidur tidak nyenyak.
Di sinilah investasi syariah pemilik usaha hadir sebagai jawaban. Bukan sekadar tempat menaruh uang, tetapi cara menjaga keberkahan, melindungi aset, sekaligus mengembangkan bisnis dengan prinsip halal dan berkelanjutan.
Mengapa Pemilik Usaha Perlu Melirik Investasi Syariah?
Seorang pemilik usaha tidak hanya berpikir soal profit, tapi juga soal sustainability—bagaimana bisnisnya bertahan dan berkembang jangka panjang. Investasi syariah menawarkan jalan tengah: aman secara hukum, menenangkan secara spiritual, dan tetap menguntungkan secara finansial.
Banyak pengusaha yang dulunya hanya fokus mengembangkan bisnis inti kini mulai melirik investasi syariah. Alasannya sederhana: mereka tidak mau uangnya mengendap tanpa nilai tambah, dan tidak mau pula terjerat instrumen yang syubhat. Dengan syariah, mereka mendapat kombinasi keamanan, keberkahan, dan pertumbuhan.
Apa Itu Investasi Syariah?
Tidak sedikit pemilik usaha mendengar istilah investasi syariah, namun belum tentu memahami makna sebenarnya. Investasi ini bukan sekadar label “halal”, tetapi sebuah sistem keuangan yang dirancang agar harta yang ditanamkan tetap bersih, aman, dan memberi manfaat nyata. Mari kita pahami lebih dalam bagaimana investasi syariah bekerja dan mengapa ia berbeda dari investasi konvensional.
Prinsip Dasar Investasi Syariah
Investasi syariah berlandaskan pada prinsip bebas riba, gharar (ketidakjelasan), dan maisir (spekulasi atau judi). Artinya, pemilik usaha yang berinvestasi melalui instrumen syariah bisa tenang karena aktivitas keuangannya tidak bertentangan dengan hukum Islam. Selain itu, investasi ini hanya diarahkan pada sektor halal dan produktif, misalnya energi bersih, pangan, kesehatan, hingga properti syariah.
Bedanya dengan Investasi Konvensional
Perbedaan utama dengan investasi konvensional adalah adanya screening syariah. Di Indonesia, proses ini diawasi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) dan OJK. Jadi, selain mengejar return, investasi syariah memastikan semua prosesnya halal dan sesuai syariat. Inilah yang membuat banyak pemilik usaha mulai beralih: bukan hanya soal profit, tapi juga soal keberkahan dan legitimasi.
Manfaat Investasi Syariah bagi Pemilik Usaha
berikut beberapa manfaat investasi syariah bagi pemilik usaha, diantaranya:
Menjaga Keberkahan Keuangan
Bagi seorang pengusaha Muslim, keberkahan lebih penting daripada sekadar angka. Uang yang halal akan melahirkan ketenangan hati, memudahkan rezeki, dan membuat bisnis lebih berkelanjutan. Investasi syariah memastikan bahwa modal usaha yang dihasilkan dengan susah payah tetap berada dalam jalur halal.
Diversifikasi Aset dengan Prinsip Amanah
Sebagai pemilik usaha, Anda pasti tahu pepatah “jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang”. Investasi syariah membantu diversifikasi aset: sebagian untuk bisnis, sebagian untuk instrumen investasi syariah. Dengan begitu, risiko bisa ditekan, dan arus kas bisnis tidak terganggu jika ada kebutuhan mendesak.
Akses ke Produk Investasi yang Semakin Luas
Kini produk syariah semakin beragam: dari reksa dana syariah, sukuk, saham syariah, deposito syariah, hingga fintech P2P syariah. Artinya, pemilik usaha punya banyak pilihan instrumen sesuai kebutuhan: ada yang cocok untuk likuiditas jangka pendek, ada juga yang untuk investasi jangka panjang.
Jenis-Jenis Investasi Syariah yang Cocok
pertanyaan selanjutnya, jenis investasi syariah apa saja sih yang cocok?
mari kita bahas
Reksa Dana Syariah
Reksa dana syariah adalah instrumen yang dikelola oleh manajer investasi sesuai prinsip syariah. Cocok bagi pengusaha yang sibuk dan tidak sempat memantau pasar setiap hari. Dengan modal terjangkau, Anda bisa mendapat portofolio terdiversifikasi dan dikelola profesional.
Sukuk (Obligasi Syariah)
Sukuk adalah surat berharga berbasis aset riil yang dikeluarkan oleh negara maupun perusahaan. Sukuk negara misalnya sangat aman karena dijamin pemerintah. Cocok bagi pengusaha yang menginginkan investasi stabil, berisiko rendah, dan mendukung pembangunan nasional.
Saham Syariah
Tidak semua saham masuk kategori halal. Saham syariah adalah saham perusahaan yang bisnisnya tidak melibatkan riba, judi, minuman keras, atau industri haram lainnya. Instrumen ini memberi peluang pertumbuhan tinggi, cocok untuk pengusaha yang siap dengan risiko fluktuasi pasar.
Deposito Syariah
Deposito syariah cocok untuk pemilik usaha yang butuh instrumen aman dengan tingkat likuiditas tinggi. Dengan akad mudharabah, keuntungan dibagi secara adil dan transparan.
Emas & Properti Syariah
Emas adalah instrumen lindung nilai klasik, sedangkan properti syariah kini makin berkembang. Keduanya cocok untuk pengusaha yang ingin menjaga nilai aset dari inflasi dan membangun warisan jangka panjang.
Strategi Investasi Syariah
Setiap investasi yang menguntungkan, haruslah mempunyai strategi yang jelas, berikut strategi untuk investasi syariah, walaupun tetap bisa dipakai di semua jenis investasi (bukan hanya syariah).
Mulai dari Analisis Cashflow Bisnis
Sebelum berinvestasi, pastikan arus kas bisnis sehat. Jangan sampai investasi justru mengganggu operasional. Anda bisa mempelajari panduan pengelolaan arus kas di artikel Cara Atur Arus Kas Bisnis.
Tentukan Tujuan & Horizon Waktu
Setiap pengusaha punya tujuan berbeda: ada yang ingin investasi jangka pendek untuk cadangan kas, ada pula yang ingin menyiapkan dana pensiun. Tentukan horizon waktu investasi sejak awal agar pemilihan instrumen tepat.
Kolaborasi dengan Konsultan Syariah
Tidak semua produk yang dilabeli “syariah” benar-benar sesuai syariah. Bekerja sama dengan konsultan syariah dapat membantu menghindari jebakan instrumen abal-abal dan memastikan investasi sejalan dengan nilai bisnis Anda.
Risiko Investasi Syariah dan Cara Mengelolanya
Sebagus apa pun instrumennya, investasi tidak pernah lepas dari risiko. Begitu juga dengan investasi syariah, meski berlandaskan prinsip halal dan transparansi. Memahami risiko sejak awal akan membantu pemilik usaha mengelola portofolio dengan bijak, menjaga arus kas tetap sehat, dan memastikan tujuan investasi tetap tercapai.
Risiko Pasar
Sama seperti konvensional, investasi syariah juga menghadapi risiko pasar: harga bisa naik-turun tergantung kondisi ekonomi global.
Risiko Likuiditas
Beberapa instrumen, seperti sukuk korporasi, tidak selalu mudah dicairkan. Bagi pemilik usaha, ini penting diperhatikan agar tidak mengganggu kebutuhan kas darurat.
Cara Mitigasi
Strategi terbaik adalah diversifikasi: kombinasi reksa dana, sukuk, saham, dan instrumen likuid seperti deposito syariah. Selain itu, pilih manajer investasi dan lembaga keuangan yang kredibel.
Studi Kasus Data: Pertumbuhan Investasi Syariah di Indonesia

Berdasarkan laporan KNEKS 2025, aset industri keuangan syariah (non-saham) di Indonesia telah mencapai Rp2.883,67 triliun per 2024. Angka ini menunjukkan skala besar dan pentingnya ekosistem syariah di perekonomian nasional.

Pemerintah Indonesia juga aktif menerbitkan Green Global Sukuk, dengan total penerbitan mencapai USD 7,7 miliar sejak 2018. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen syariah bukan hanya soal profit, tetapi juga mendukung proyek berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Selain itu, data OJK menunjukkan tren positif pada Reksa Dana Syariah, baik dari jumlah produk maupun nilai aktiva bersih (NAB). Investor ritel semakin banyak yang masuk, termasuk dari kalangan pengusaha. Anda bisa cek statistik resmi di OJK Reksa Dana Syariah.

Kisah Inspiratif: Pengusaha yang Beralih ke Investasi Syariah
Seorang pemilik usaha di bidang distribusi pangan awalnya menaruh seluruh keuntungannya di deposito konvensional. Namun setelah menyadari ada potensi riba, ia beralih ke deposito syariah dan reksa dana syariah. Hasilnya? Selain mendapat return kompetitif, ia juga merasakan ketenangan hati karena bisnis dan investasinya selaras dengan prinsip Islam.
Cerita ini nyata dialami banyak pengusaha. Bukan hanya soal angka, tetapi juga soal nilai dan keberkahan.
Bagaimana Memulai Investasi Syariah sebagai Pemilik Usaha
Setelah memahami manfaat, jenis, dan risiko investasi syariah, pertanyaan berikutnya adalah: dari mana harus memulai? Banyak pemilik usaha merasa bingung di langkah pertama, padahal prosesnya bisa sederhana jika dijalani bertahap. Dengan pendekatan yang tepat, Anda bisa membangun portofolio syariah yang sesuai kebutuhan bisnis sekaligus aman secara syariah.
Langkah Pertama: Edukasi & Literasi
Pahami dulu prinsip syariah dalam investasi. Banyak sumber resmi dari OJK, DSN-MUI,
Membuka Rekening Efek Syariah / Platform Syariah
Kini banyak sekuritas dan platform digital yang menyediakan layanan syariah, sehingga mudah diakses oleh pemilik usaha.
Menentukan Alokasi Dana
Gunakan pendekatan proporsional: misalnya 60% untuk bisnis, 20% untuk reksa dana syariah, 10% sukuk, 10% emas.
Evaluasi & Review Berkala
Lakukan evaluasi setiap 6–12 bulan. Pastikan portofolio masih sesuai tujuan dan kondisi keuangan usaha.
Investasi syariah pemilik usaha bukan hanya tren, tapi kebutuhan. Dengan prinsip halal, bebas riba, dan berlandaskan keberkahan, pemilik usaha bisa menjaga aset sekaligus menumbuhkan bisnis dengan cara yang lebih aman dan beretika. Jangan menunggu sampai dana Anda mengendap tanpa arah. Mulailah langkah kecil hari ini dengan memilih instrumen syariah yang sesuai kebutuhan.
FAQ
Apakah investasi syariah lebih aman daripada konvensional?
Investasi syariah tidak menjamin bebas risiko, tetapi instrumennya lebih transparan dan dijamin halal sehingga lebih aman dari sisi syariah.
Apakah return investasi syariah kompetitif?
Ya, banyak studi menunjukkan return investasi syariah kompetitif. Contoh: reksa dana syariah di Indonesia terus bertumbuh dengan performa yang solid.
Bagaimana memastikan instrumen benar-benar sesuai syariah?
Pastikan instrumen memiliki fatwa DSN-MUI, terdaftar di OJK, dan dikelola lembaga keuangan syariah resmi.




