7 Cara Mengatur Arus Kas Bisnis agar Tidak Tersendat

Bayangkan ini: seorang pengusaha restoran dengan omzet ratusan juta rupiah tiap bulan, terlihat sukses dari luar. Namun suatu hari, ia tak bisa membayar gaji karyawan tepat waktu. Padahal, omzetnya tinggi. Apa masalahnya? Arus kas tersendat. Uang banyak di atas kertas, tapi kas kosong. Cerita ini bukan sekadar kisah fiksi—banyak pemilik bisnis atau bahkan CEO besar pernah mengalaminya.

Mengelola bisnis tanpa arus kas sehat ibarat mengendarai mobil mewah tanpa bensin: kelihatan gagah, tapi tidak bisa melaju. Nah, di artikel ini kita akan membahas 7 cara atur arus kas bisnis agar tidak tersendat, dengan gaya praktis, ringkas, dan bisa langsung Anda terapkan.

Kenapa Banyak Bisnis Tumbang Karena Arus Kas?

Arus kas atau cash flow sering disebut sebagai “nyawa bisnis”. Banyak perusahaan yang di atas kertas tampak menguntungkan, tetapi justru kolaps karena tidak bisa menjaga arus kas. Salah satu riset Harvard Business Review mencatat bahwa mayoritas kebangkrutan UMKM disebabkan oleh masalah likuiditas, bukan sekadar kerugian laba.

Sebagai pengusaha, mungkin Anda sering merasa “untung tapi kok uangnya tidak ada”. Inilah jebakan klasik. Profit hanyalah angka di laporan keuangan, sementara arus kas adalah realitas: apakah Anda bisa bayar gaji, beli bahan baku, dan menutup kewajiban? Inilah alasan menguasai arus kas jauh lebih penting daripada sekadar mengejar keuntungan.

Pentingnya Menguasai Arus Kas dalam Bisnis

Mengapa Anda perlu serius belajar cara atur arus kas bisnis? Karena arus kas ibarat jantung yang memompa darah ke seluruh organ perusahaan. Jika jantung berhenti berdetak, sekuat apa pun tubuhnya, pasti mati.

Profit dan arus kas adalah dua hal berbeda. Perusahaan bisa mencatat laba besar, tetapi jika semua omzetnya berupa piutang yang belum tertagih, kas tetap kosong. Sebaliknya, bisnis dengan margin tipis tetapi perputaran uang cepat justru bisa bertahan lebih lama. Inilah yang membuat cash flow management dan likuiditas bisnis menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

7 Cara Atur Arus Kas Bisnis agar Tidak Tersendat

Di bawah ini adalah tujuh langkah strategis yang bisa Anda terapkan mulai hari ini.

1. Buat Forecast Arus Kas Rutin

Forecast atau proyeksi arus kas membantu Anda melihat ke depan, bukan hanya ke belakang. Dengan membuat prediksi 3–6 bulan, Anda bisa mengantisipasi kapan bisnis akan surplus dan kapan akan defisit.

Contohnya, bisnis F&B tahu bahwa musim liburan biasanya permintaan naik. Dengan forecast, Anda bisa menyiapkan bahan baku dan tenaga kerja tambahan lebih awal. Sebaliknya, jika ada bulan yang cenderung sepi, Anda bisa menekan biaya sejak awal. Forecast bukan hanya angka, tapi strategi bertahan hidup.

👉 Untuk panduan praktis membuat proyeksi arus kas, Anda bisa membaca artikel pendukung di Infiniti Mulia Sedaya yang membahas manajemen keuangan bisnis.

2. Pisahkan Keuangan Bisnis dan Pribadi

Banyak UMKM gagal bukan karena produknya buruk, tetapi karena pemiliknya mencampur uang pribadi dengan uang bisnis. Misalnya, saat kas perusahaan sedang penuh, tiba-tiba dipakai untuk renovasi rumah pribadi. Akibatnya, bisnis kekurangan dana saat butuh.

Pisahkan rekening bank untuk bisnis dan pribadi. Dengan begitu, Anda lebih mudah melacak transaksi, membuat laporan, dan mengukur kesehatan usaha. Ingat, keuangan pribadi adalah keuangan pribadi, sementara bisnis harus berdiri sendiri.

3. Kelola Piutang dengan Disiplin

Piutang sering jadi sumber masalah. Banyak klien janji bayar minggu depan, tapi molor hingga berbulan-bulan. Jika dibiarkan, bisnis Anda yang rugi.

Solusinya: tetapkan credit policy yang jelas. Misalnya, jatuh tempo maksimal 30 hari. Berikan insentif berupa diskon bagi yang membayar lebih cepat, dan jangan ragu memberi penalti bagi yang telat. Gunakan reminder otomatis atau software invoice agar tagihan tidak terlupakan. Dengan begitu, arus kas tetap lancar.

4. Kendalikan Pengeluaran Operasional

Seringkali pengusaha tergoda mengeluarkan biaya tanpa perhitungan. Padahal, tidak semua pengeluaran mendukung pertumbuhan bisnis.

Buatlah checklist: mana pengeluaran produktif, mana yang konsumtif. Biaya marketing digital dengan ROI jelas termasuk produktif. Tetapi biaya jamuan makan mewah hanya demi gengsi bisa ditekan. Ingat, hemat bukan berarti pelit—hemat berarti cerdas menyalurkan kas hanya untuk yang memberi nilai tambah.

5. Negosiasi dengan Supplier dan Vendor

Jangan takut bernegosiasi. Banyak supplier sebenarnya bersedia memberi termin pembayaran lebih longgar atau diskon pembelian jika kita berkomunikasi baik.

Misalnya, seorang pengusaha ritel berhasil memperpanjang tempo pembayaran dari 30 hari menjadi 60 hari. Hasilnya, ia punya lebih banyak ruang bernapas dalam mengelola kas. Negosiasi bukan berarti Anda lemah, justru menunjukkan Anda serius membangun hubungan jangka panjang yang sehat dengan vendor.

6. Sediakan Dana Darurat Bisnis

Banyak pengusaha hanya punya dana darurat pribadi, padahal bisnis juga butuh “tabungan darurat”. Dana ini bisa menutup biaya operasional 3–6 bulan ke depan jika penjualan anjlok mendadak.

Contohnya, ketika pandemi melanda, perusahaan yang punya cadangan kas bisa bertahan lebih lama dibanding yang tidak punya. Dana darurat usaha bukan sekadar simpanan, tapi perisai yang melindungi bisnis dari badai ketidakpastian.

7. Gunakan Tools & Konsultasi Profesional

Di era digital, banyak tools akuntansi dan software manajemen kas yang bisa membantu Anda mencatat, menganalisis, dan memprediksi cash flow. Gunakan teknologi agar tidak ada data yang tercecer.

Namun, tools saja tidak cukup. Anda juga bisa berkonsultasi dengan pihak profesional. Infiniti Mulia Sedaya, misalnya, hadir sebagai mitra strategis yang membantu pengusaha menata cashflow dengan pendekatan syariah, modern, dan berkelanjutan. Dengan pendampingan yang tepat, arus kas bukan lagi masalah, tetapi senjata untuk tumbuh lebih cepat.

Studi Kasus: Bisnis yang Selamat Berkat Arus Kas Sehat

Seorang pemilik toko pakaian di Jakarta hampir gulung tikar. Penjualannya bagus, tetapi selalu kehabisan kas karena terlalu longgar memberi kredit ke pelanggan grosir. Setelah ia belajar cara atur arus kas bisnis dengan forecast sederhana, disiplin menagih piutang, dan menekan biaya operasional, bisnisnya kembali sehat.

Kini ia bisa memperluas toko ke kota lain. Kuncinya bukan sekadar produk laku, tetapi arus kas yang dijaga dengan disiplin.

Kesalahan Umum dalam Mengatur Arus Kas yang Harus Dihindari

Banyak pengusaha jatuh ke lubang yang sama, yaitu:

  1. Mencampur uang pribadi dan bisnis. Akibatnya, sulit membedakan mana biaya keluarga, mana biaya usaha.
  2. Terlalu mengandalkan pinjaman jangka pendek. Utang boleh, tapi jika tidak dikelola dengan baik, justru membuat kas semakin tersendat.
  3. Tidak mencatat cashflow secara disiplin. Percaya pada ingatan saja tanpa catatan adalah bom waktu.

Menghindari kesalahan ini sama pentingnya dengan menerapkan strategi yang benar.

Rekomendasi Sumber dan Alat untuk Manajemen Arus Kas

Jika Anda ingin lebih dalam, berikut beberapa sumber tepercaya:

Sumber-sumber ini bisa memperkuat pemahaman Anda, sekaligus menambah wawasan berdasarkan penelitian dan praktik terbaik.

Penutup: Cash Flow Sehat, Bisnis Lebih Panjang Umur

Mengatur arus kas bukan sekadar teknik akuntansi, tetapi strategi bertahan hidup. Dari memisahkan keuangan, menagih piutang disiplin, hingga menyediakan dana darurat, semua langkah ini bertujuan satu: menjaga bisnis agar tetap bisa bernafas panjang.

Sebagai pengusaha, Anda pasti ingin bisnis tidak hanya besar, tapi juga bertahan lama. Infiniti Mulia Sedaya siap membantu Anda merancang strategi arus kas yang sehat, syariah, dan berkelanjutan. Karena pada akhirnya, bisnis yang kuat bukan sekadar yang punya omzet besar, tapi yang punya cash flow sehat untuk terus bertumbuh.

Share Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Ebook GRATIS "10 Kesalahan Keuangan UMKM dan cara mengatasinya"
panduan praktis untuk pebisnis UMKM